
Dalam buku The Secret atau dalam terjemahan Indonesia Rahasia disebutkan bahwa kehidupan seseorang dipengaruhi oleh apa yang dia pikirkan, sehingga hal tersebut menjadi Center of Gravity. Misalnya, jika kita terus menerus memikirkan kalau kita menganggap proposal yang kita ajukan gagal, maka secara tidak langsung mempengaruhi di sekeliling kita. In fact proposalnya bagus, namun aura pikiran kegagalan proposal akan menyebar.
Oke, enough for the intermezzo. Kali ini saya tertarik dengan orang yang memiliki ‘nasib’ atau ‘takdir’ secara kebetulan. Mungkin kita pernah melihat ada orang yang seringkali beruntung, sering kali well acepted by others, sementara jika kita dengan cara yang sama dilakukannya gagal ada di sekeliling kita (kalau kata Tung Desem Amati Tiru Modifikasi cara orang yang sukses, namun tidak bisa diterapkan karena ada faktor X dari orang itu). Namun, di sisi lain ada orang yang sering kali sial. Misalnya, sehati-hati apaun pasti dia ceroboh, entah barangnya terlupa, dompet ketinggalan, timing tidak tepat dsb.
Kapan waktu saya pernah membaca posting menarik di KASKUS mengenai orang-orang yang seringkali sial. Misalnya ada orang yang sering kali kena petir, orang yang rumahnya 6 kali di jatuhi meteor, orang yang setiap kali berlibur selalu ada serangan teroris, dan sebagainya. Menarik ya, sepertinya ada nasib atau takdir khusus buat mereka. Mungkin ada hubungan dengan thesis dari buku The Secret diatas. Semacam ada Center of Gravity atas ‘kutukan’ yang menimpa mereka bahkan konon, Tuhan pun tidak sedang bermain dadu. Jadi, ini menarik sekali.
Ada lagi pengalaman menarik saya (diluar artikel KASKUS). Saya menemukan orang yang seringkali berada pada kematian orang lain secara mengenaskan. Mirip Kogoro Mouri, tapi ini di Indonesia. Cerita bertemunya juga tidak sengaja. Waktu itu saya mau berangkat ke UI. Nyubuh habis sahur Ramadhan sudah duduk-duduk di peron 2 Gondangdia. Tiba-tiba ada bapak-bapak mengajak saya ngobrol tentang apapun pengalaman hidupnya. Pembukaan pembicaraan dimulai dari tanggapan orang yang duduk di atap KRL Ekonomi.
Saya (S): “Ck.Ck.” (liat padatnya KRL arah Jakarta-Kota subuh itu)
Bapak (B): “Orang Indonesia itu tidak takut mati. Padahal banyak kasus kesetrum”
Akhirnya pembicaraan berlanjut, kalau dia pernah melihat orang mati Kesetrum di atas kereta. Bukan hanya gosong, tapi badannya berasap. Saya pikir ini sudah pengalaman mengerikan, tapi dia terus menceritakan pengalamannya dan ini membuat saya bergidik kalau Bapak ini sering sekali menyaksikan orang dalam keadaan mengenaskan. Berikut rangkuman ceritanya:
- Melihat orang kesetrum di atas kereta.
- Melihat orang jatuh dari atap kereta dan terus terjun ke bawah rel di Cikini-Manggarai.
- Melihat tetangganya kesetrum saat membetulkan siaran TV
- Melihat bapak-bapak (tahun 90-an) badan terbelah dua gara-gara menyebrang rel di Gondangdia. Dia bercerita, jangankan makan daging, melihat soto pun dia muntah selama 2 minggu.
- Rata-rata menyaksikan polisi lantas matinya dengan muka mengerikan (dia bilang rata-rata polantas makan rezeki sopir dan orang-orang yang dia tilang mendoakan jelek-jelek (kemakan sumpah). Bapak itu dulunya mantan sopir angkot dan mantan preman, jadi tahu betul seluk beluk jalanan). wah-wah…
- Melihat orang kesambar petir (sering).
Sepertinya, bapak yang saat itu saya ajak ngobrol punya Center of Gravity Negative. Otomatis gw mikir yang bukan-bukan. Sudah saatnya saya cabut dari samping beliau (parno akan teori The Secret), jangan dekat-dekat dengan Center of Gravity Negative. Cukup lama memang pembicaraannya, sekitar 1 jam, dan jam pun menunjukkan jam 7.30, kereta belum juga muncul. Mungkin ini negativenya, saya terlambat kuliah! Okelah, ini negativenya, semoga saja. Tidak cuma itu KRL Express muncul, bukan KRL Ekonomi seperti karcis yang saya beli. Terlalu parno, biarlah kesialan itu berganda. Saya pamit sama beliau, nekat naik KRL Express demi mengejar kuliah pagi. Bapak itu sudah melarang, kalau KRL Express dendanya 30 ribu, saya tidak peduli.
Saya terlalu parno, kebanyakan baca buku The Secret. Tidak ada pemeriksaan karcis di KRL Express saat itu. Banyak pula mahasiswa UI yang ikut ‘numpang’. Saya selamat. Dan baru teringat, kalau saya sendiri tadi telah menjadi Center of Gravity, karena pikiran saya negative.
So, be positive; tapi seringkali kita terhalang dan malah bertindak untuk bagaimana berpikir positive sendiri.
Cheers.
————————————-
Note:*Sekedar refresh ingatan waktu ketemu Bapak X di Stasiun Gondangdia. Tidak ada kesimpulan apa-apa kecuali saya bosen liat PR




*jauh ya???*.
, pesan tiket, booking travel, pesen kamar hotel, konfirmasi kedatangan, beli barang, atau kegiatan pertelponan, nama gw selalu dituliskan: Risa Asmi (dan sering dikira cewe).
.
. Hanya belakangan ini, babe kos gw udah mulai waras, manggil gw dengan nama yang benar: Azmi (pakai ‘Z’ pulak
).
. Gw ulang: “Azmi, Pak”. Si Bapak nyahut lagi: “Eh, iya lupa, Azmi. Hehehe. (dengan ketawa khasnya)”. Besoknya terulang lagi. Sekarang sudah lebih dari 1.5 tahun, si Bapak masih mengulang kesalahannya. Mungkin karena gw udah kebal, ya udah, cuma si bapak yang manggil gw dengan nama Aziz. The only person.
).
.
(China, Viet) selalu memanggil gw dengan nama lengkap dan benar: Azmi (gak pake disingkat Mi atau Za). termasuk Mr. Felix yang dari Philiphine.
Istri gw