Susah Mencari Orang Jujur

Desember 31, 2011

Si Dompet Merah Itu

Si Dompet Merah Itu

image[/caption]

Dompet istri baru saja ditemukan lagi di Detos. Jam 11 tadi sempet panik, soalnya dompet istri gak ada di tas pas pulangnya. Gw cuma inget, waktu si Azkia rewel cebok ee, dompetnya ditaroh di tempat pel janitor. Untungnya, gw masih inget situasi, dan ada ibu ibu janitor yang ngetawain kita waktu berdua pada emosi ngadepin little trouble Azkia. Pas radi ditemui, si ibu polos banget nyeritain sma dan nitipin dompetnya di informasi.

TERIMAKASIH BANYAK IBU JANITOR DEPOK TOWN SQUARE yang sudah sangat jujurnya. Kalau si ibu mau, ada uang yang cukup banyak di dompet itu. Barusan di cek, gak ada yang berubah susunan uangnya. Padahal, susah nyari orang jujur sekarang. Salut ya sama ibu. Aduh, baru inget, lupa kenalan sama si ibu, namanya siapa ya?

Pada tahu Kripiki Maicih kan? Kripik yang melegenda dan membuat penasaran ini akhirnya nyampe rumah. Gara-gara penasarannya, akhirnya nyamperin FJB Kaskus, dimana semua barang ada di sana. Berhubung seller di Bandung, ongkos kirimnya aja sudah mahal, jadinya diputuskan beli 3 biji saja, 2 Maicih level 5 dan 1 maicih level 10. Ngerasain 1 gigit aja pedesnya sudah bukan main, apalagi waktu itu lagi buka puasa, otomatis perut langsung perih. Cuman, ya pedesnya itu bikin nagih sih. Itu juga baru level 5, belum berani buka level 10. Kalau 1 bungkus lagi, dikasih ke tetangga, soalnya pas ke rumah dia ngelirik ada Maicih leyeh-leyeh di sofa, terus katanya penasaran dan belum pernah nyoba. Kebetulan, “trauma” makan Maicih, akhirnya level 5 dikasih saja. Yang level 10 masih nunggu pulih pasca “trauma” makan dulu, masih penasaran.

 

Maaaak Pedes
Ini dia Maicih: cabe tabur kripik

Waktu itu nyari-nyari gimana sih cara menikmati maicih supaya gak sakit perut, terus nemu blog yang katanya makan maicih jangan minum air. Busyet dah, gak kuat mak. Akhirnya, nyoba-nyoba bikin resep Nasi Goreng Maicih. Soalnya bumbu kripiknya itu nendang banget terus bikin ketagihan. Kalau dipikir-pikir, bakal enak kalau dibuat nasi goreng. Bikinnya pun gak terlalu susah, berhubung si Maicih ini sudah full sama rempah, jadi tinggal nambah mentega doang sama ebi buat penguat rasa, gak perlu bawang lagi. Berikut resepnya.

Persiapan

Bahan:

  • 2 Centong Nasi Putih yang baru keluar dari Rice Cooker
  • 3/4 Centong Kripik Maicih, diremes-remes
  • 1 1/2 Sendok Makan Mentega
  • 1 Sendok makan Ebi Kering
  • 2 Sendok Abon
  • Sejumput garam
  • Sejumput Gula

Cara Memasak

  • Cairkan 1/2 sendok mentega, kemudian goreng Ebi sampai kecoklatan, taburi sedikit garam.
  • Matikan api –> penting biar rasa gurihnya dapat.
  • Masukkan nasi yang masih hangat kemudian aduk-aduk dengan ebi.
  • Masukkan 1 sendok mentega, aduk-aduk sampai rata.
  • Nyalakan api sekitar 20 detik, biar hangat sambil aduk-aduk nasi kemudian matikan.
  • Masukkan maicih sambil aduk rata.
  • Masukkan abon, aduk rata.
  • Terakhir, taburkan gula

Rasa

  • Dengan cara memasak minim api seperti itu, membuat rasa gurih mentega ada, rasa gurih ebi muncul dan rasa pedas maicih merata (rempahnya gak menguap kepanasan). Terus, karena gula ditaburkan terakhir, maka ada sensasi “greges-greges manis” menandingin rasa ebi yang keburu asin saat dimasak dengan garam pertama kali.

Penasaran dengan resepnya? Coba saja? Dijamin gak terlalu pedas, dan rasa maicih yang tetep ada.

 

Example of Purpose:

  1. Displaying captcha for creating automatic login (such as internet banking BRI: https://ib.bri.co.id/ib-bri/Login.html)
  2. Automatic System for grabing and saving image from a website
The Code:
    Function GrabImageFromWebBrowser(ByVal Browser As WebBrowser, ByVal ImageIndex As Integer) As Bitmap
        Dim doc As mshtml.IHTMLDocument2 = Browser.Document.DomDocument
        Dim selObj As mshtml.IHTMLSelectionObject = doc.selection
        Dim body As mshtml.HTMLBody = doc.body
        Dim range As mshtml.IHTMLControlRange = body.createControlRange()
        Dim img As mshtml.IHTMLControlElement = Browser.Document.Images(ImageIndex).DomElement

        range.add(img)
        range.select()
        range.execCommand("Copy", False)

        Dim bimg As Bitmap = New Bitmap(Clipboard.GetImage())
        Return bimg
    End Function
References:
  1. http://lazycoders.blogspot.com/2007/06/mshtml-dom-and-copying-objects-from.html
  2. http://www.vbforums.com/showthread.php?t=551127

Ke Makassar

April 28, 2011

4 hari dinas kantor dalam rangka survey penelitian mandiri, berikut yang di dapat di Makassar:

  1. Menginap di Hotel Cokelat, tampaknya hotel ini adalah hotel melati yang sedang di upgrade ke bintang 1. Beberapa fasilitas masih melati, seperti AC tidak dingin, siaran TV bersemut, handuk kecokelat-cokelatan dan toilet yang menguning kecokelatan. 2 yang terakhir awalnya gw pikir karena sesuai dengan nama hotel ini, jadi agak cokelat-cokelat gitu. Kelebihan hotel ini masih baru di renov dan dekat dengan akses jalan (samping Mall Ratu). Alasan pemilihan hotel ini karena mendadak PUM memberi tahu bahwa hotel di downgrade jadi 313.000 karena harga tiket yang membengkak. Padahal jauh-jauh hari gw sudah booking hotel yang bagusan disekitar Karebosi. Harga tiket melambung gara-gara si travel sialan itu menunda Issued tiket gara-garanya kantor belum bayar. Sebenarnya, kantor sudah pasti bayar, namun tunggu verifikasi dari KPN dan sebagainya. Intinya, daripada uang saku dipotong, lebih baik uang hotel dipotong, begitu tampaknya kebijakan PUM ini gw baca.
  2. Ternyata Makassar much-much-better than Jakarta. Sehari tinggal di sini, gw makin betah dan menyarankan ibu kota itu sebaiknya penataannya seperti Makassar. Kota ini luas, namun transportasinya jelas, kalau mau ke mana-mana enak. Kekurangannya, transportasi tidak sampai masuk ke jalan-jalan yang lebih kecil, hanya pada arteri utama. Jadi, kalau mau kemana-mana harus tahu turun di jalan besar mana, terus nyambung naik becak. Oya, gw juga suka moralitas sopir pete-pete di sini, tidak seperti di Jakarta yang ugal-ugalan atau Bandung yang suka nipu. Yang lain gw suka, taksinya banyak dan pakai argo, tidak seperti Bandung yang nembak (lebih mahal). Rata-rata taksinya juga punya tarif sama, dan mereka juga jujur, jarang gw diputer-puter (gw pantau via Android/GMaps).
  3. Makassar itu panas (beuh gila).
  4. Makassar yang identik dengan mahasiswa tawuran itu tampaknya terlalu dibesar-besarkan tv-nya om brewok.
  5. Sop Konro, Konro Bakar, Pisang Epe, Coto, gw merindukan kalian. Mak Nyos. Kalau kalian ke Makassar, harus mencoba ini semua.
  6. Air putih jika makan di kakilima itu, selalu air putih sejuk yang maknyes di tenggorokan. Beda seperti di Jakarta yang dikasih air hanget (atau malah air mendidih) pas makan. Kalau makannya siang-siang, sudah keringetan gerah plus air panas. Wow, ganggu sekali. Bijak sekali kuliner di Makassar yang panas ini. Airnya bikin seger.
  7. Bantimurung yang legendaris itu biasa saja, gw belum jatuh cinta. Mungkin ini karena gw estafet ke sana pakai pete-pete. Dari hotel, naik pete-pete ke Sentral. Dari sana nyambung ke Daya, ternyata ini makan waktu 1 jam, mana lagi jam 11 siang, lagi panas-panasnya. Dari Daya turun sebentar buat makan siang neguk air sejuk kakilimaan. Dari Daya sambung lagi Kota Maros, lagi macet ada yang tabrakan, ini butuh waktu 1 jam lagi. Nah, perjalanan tidak berhenti di situ. Di tengah terik dan godaan ke Surga Kupu-Kupu itu, ternyata harus nyambung lagi naik pete-pete ke Bantimurung (30 menit, total 2.5 jam! panas-panasan). Karena baru pertamax, maka gw nyari-nyari dimana lokasi Taman Nasional Bantimurung itu. Ini juga berhubung sopirnya tidak mengerti juga percakapan gw: Pak, tolong saya diberhentikan di Taman Kupu-Kupu. Sopir: hah? kupu-kupu. ###percakapan berhenti, gw males###. 15 menit kemudian, gw ngobrol lagi: Pak, tolong saya diberitahu Taman Nasioanl Bantimurung, Sopir: Iya nanti diantar. Sekelebat, gw melihat tulisan Taman Nasional Bantimurung, seketika gw bilang STOP.STOP.STOP. Sopirnya juga sigap injak rem mendadak (untungnya penumpang lagi kosong). Pas gw tanya ke pak Sopir: Pak, ini ya Taman Nasionalnya. Pak Sopir: E…. bukan itu, itu panti asuhan, di depannya lagi. Ternyata gw diturunkan di depan gerbang. Masuk ke dalam masih sangat jauh. #tega sekali si pak Sopir sama musafir sesat ini#. Di sana gw beli tiket 10 ribu. Pas masuk, di area itu cuma ada kolam renang alami alias, sungai yang jadi pemandian. Dan… cuma itu. Kecewa, gw ngulik-ngulik ke sana kemari nyari kupu-kupu, tampaknya tidak ada juga. Masuk ke goa mimpi males, gelap, dan satu lagi kok gak ada guide yang bisa disewa ya. Tempat ini sepertinya juga tidak terurus. Mungkin yang gw inginkan waktu melihat di Trans7, Taman Kupu-Kupu itu adalah penangkaran kupu-kupu kali ya. Karena sudah malas dan cape sama situasi, gw akhirnya pulang saja setelah beli oleh-oleh. Lain kali kalau ke Makassar lagi, mungkin gw mampir ke Taman PraSejarah dan Penangkaran. Trus, sewa mobil saja dan sewa guide dan baca-baca tur backpacker sebelumnya, spot-spot apa yang menarik di Maros-Bantimurung.
  8. Pantai Losari itu konsep yang sangat bagus sebagai ruang terbuka untuk masyarakat.
  9. Overall, gw salut sama pemerintah daerah setempat sama pembangunan dan penataan Makassar. Harusnya pemda/DPRD Jakarta studi banding ke sini. Termasuk juga pemda/DPRD Jawa Barat. Gw kasihan sama Jakarta yang tiap hari kian parah. Apalagi Bandung yang sebenarnya kota yang menarik yang dirusak oleh jalur angkot yang semraut, kondisi lalu-lintas yang membingungkan, dan moralitas sopir terutama sopir angkot dan taksi. Oya, jalan di Makassar rata-rata tidak punya jembatan penyebrangan seperti di Bandung, tapi kalau nyebrang gw merasa nyaman. Mobil di sini hormat semua sama penyebran jalan, beda kayak di Jakarta yang asal nyosor atau di Bandung yang pada intinya sama saja, orang Jakarta yang liburan (mobil plat B itu egois, termasuk plat H Bogor).
  10. 4 hari di sini, gw kerasan.

Oya, Besok sudah harus siap-siap ke pangkuan ibu kota lagi *sigh*

Dari sekian operating system buatan M$, Vista setahu dan sepengalamanku adalah produk gagal di operating system. Salah satu contohnya adalah, bingungnya bagaimana caranya mere-enable fitur Hibernate di Vista. Secara tidak sengaja, kemaren fungsi itu hilang begitu saja gara-gara saat melakukan clean-up hardisk dan mencentang Hibernate File Cleaner. Space yang disediakan lumayan besar, gak tahunya ternyata efeknya mendisable fungsi Hibernate. Panik gara-gara ini, aku coba cari di Help Center Vista, dan tidak memberi solusi apa-apa (velly ba….ad).

 

Ternyata setelah browsing-browsing solusinya seperti ini:

  1. buka command prompt
  2. ketik: powercfg /hibernate on [enter]

Dijamin, fungsi Hibernate kembali seperti semula.

Kesal karena di SMS terus sama penawaran KTA, saya coba list di blog saya ini, list diurut berdasarkan waktu, dari 31 Desember 2010 sampai 25 Februari 2011. Silahkan bagi yang ingin menambahkan:

List Nomor Nomor yang Dihubungi PIC Nama Bank
1 087889863205 085814871223 / 02196884534 Tia Bank
2 087889461298 02135978814 Fahri Bank
3 081934190982 082112755426 / 081585810310 - Bank
4 087887606656 08561098005 / 02147390598 - Bank
5 081992459587 08999999455 - PT. MULTYCell
6 081808905782 02145557968 - Standard Chartered
7 08179838639 85718888228 - Bank Swasta
8 87889863174 02185419990 / 08561186127 Dea Bank Swasta
9 087889111640 02180235825 Vera Bank Swasta

Arsip Kita Dikemanakan?

Desember 15, 2010

Kemaren, 14 Desember 2010, gw ikut rapat tentang Penataan Arsip. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa gw peroleh dari rapat itu. Berikut poin-poin yang gw peroleh dari presenter, Pak Rudi, Kepala Pusat Jasa Kearsipan, Arsip Nasional Republik Indonesia:

  1. Arsip sendiri secara regulasi diatur dalam 3 UU yaitu: UU No. 43 2009 tentang Kearsipan, UU No. 11 2008 tentang ITE dan UU No.14 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.Di Indonesia, karyawan atau pejabat yang ditaruh dibagian arsip adalah karyawan atau pejabat yang “dibuang” karena tidak disenangi atasan. Karir mereka akan mentok dan paling sulit naik. Berbeda halnya dengan negara luar, pejabat dan karyawan pemegang arsip adalah orang yang paling dipercaya dan paling kompeten di institusi tersebut.
  2. Penataan arsip kita masih kacau. Salah satu contohnya adalah kasus Bank BCA, dimana mereka pernah mendapatkan kasus pencairan dana deposito sebesar 150.000 USD. Pencairan terjadi 2 kali, karena BCA gagal menyusun arsip mereka dengan bagus. Pada pencairan pertama, dilakukan oleh orang yang hanya menunjukkan copy sertifikat deposito dan bukti kehilangan dari polisi. Pencairan kedua dengan nilai yang sama dilakukan oleh orang yang memang membawa sertifikat asli deposito. Disini dari sisi kearsipan, BCA memang salah, terlepas ada indikasi penipuan dari nasabah, karena arsip-arsip yang dimusnahkan 10 tahun kebawah, sementara deposito sudah lebih dari 10 tahun dan arsip tentang deposan ini tidak diseleksi untuk dimusnahkan.
  3. Baik di BUMN, Bank terlebih di institusi pemerintah, sangat gampang sekali menemukan arsip bertebaran dan tidak dijaga, bahkan Cleaning Service sendiri bisa mengambilnya, padahal arsip bisa memiliki nilai ekonomis dan politis (misalnya pada kasus wikileaks dan indoleaks).
  4. Contoh bagus penataan arsip yaitu di PT Dirgantara Indonesia, dimana arsip tentang pesawat disimpan dalam ruangan besi dan hanya 1 orang yang bisa mengaksesnya, selain itu arsip-arsip yang disimpan oleh ANRI yang sudah berumur ratusan tahun (termasuk diantaranya sertifikat tanah jaman belanda). Nah, terkait sertifikat tanah ini, jaman sekarang – kata Pak Rudi – banyak pengacara-pengacara yang datang berburu sertifikat ini, karena nilai ekonomisnya. Tanah di jakarta dulunya milik belanda dan pedagang cina dan arab. Namun setelah kemerdekaan, tanah yang ada di Jakarta hanyalah tanah klaim yang kemudian diuruskan sertifikatnya di Pemkot Jakarta, ada celah hukum untuk ini, jika melihat alur sejarah pertanahan di Jakarta.
  5. Arsip sendiri secara regulasi diatur dalam 3 UU yaitu: UU No. 43 2009 tentang Kearsipan, UU No. 11 2008 tentang ITE dan UU No.14 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Adapun sanksi yang berlaku (dalam UU 43 2009) juga cukup berat yaitu sanksi administrasi diantaranya jika institusi tidak menyediakan tata kelola arsip sampai pidana karena beberapa kriteria misalnya sengaja tidak melakukan pelaporan dan pengarsipan. Kalau menurut gw, ini terlebih ke sosialisasinya yang kurang.
  6. Satu hal terakhir yang dicatat, jika perlu konsultan untuk pengelolaan arsip bisa menghubungi Pusat Jasa Kearsipan Arsip Nasioanl Indonesia. Di presentasinya, pak Rudi memperlihatkan proses Pusat Jasa Kearsipan dari segerombol paket-paket arsip yang ditumpuk dan tak tertata dari Kemenlu, kemudian disusun dan dikategorikan, difumifikasi (untuk pencegahan jamur), dan dimasukkan ke sistem database.

Kesimpulan akhirnya yang gw tangkap, ternyata Indonesia masih menyepelekan arsip-arsip yang ada, artinya tidak menghargai sejarah, padahal arsip bisa bernilai ekonomis dan politis. Oya, berita terkait bisa dilihat di sini, yang ditulis Dimas.

Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) merupakan kegiatan yang diadakan oleh Direktorat e-Government di dalam Direktorat Jenderal Aplikasi dan Telematika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Adapun metodologi pemeringkatan yang digunakan dalam melakukan pemeringkatan adalah sebagai berikut:

  1. Penjelasan proses pelaksanaan PeGI kepada para peserta yang mencakup tatacara pemeringkatan, dimensi dan indikator-indikator yang akan dievaluasi, serta informasi pendukung yang diperlukan.
  2. Peserta mempersiapkan berbagai informasi pendukung.
  3. Peserta melakukan presentasi atau bisa juga berupa sesi wawancara dengan asesor.
  4. Bila diperlukan, asesor dapat melakukan klarifikasi/pemeriksaan melalui telepon, e-mail atau dengan melihat ke lokasi.
  5. Asesor melakukan asesmen dan memberikan rating per peserta. Rating yang diberikan meliputi rating per dimensi tiap-tiap peserta dan secara rata-rata keseluruhan peserta.
  6. Kompilasi dan normalisasi di tingkat nasional.
  7. Sidang asesor untuk menentukan hasil akhir pemeringkatan.
  8. Hasil pemeringkatan dipublikasikan melalui berbagai media, situs web dan juga seminar-seminar agar hasilnya bisa diketahui oleh masyarakat umum.

Sedangkan pemberian rating pada para peserta dilakukan per dimensi dengan skala nilai sebagai berikut:

  • 3,5 – 4,0 = sangat baik
  • 2,5 – 3,49 = baik
  • 1,5 – 2,49 = kurang
  • 1,0 – 1,49 = sangat kurang

Selain itu, ditentukan lima dimensi yang akan dikaji yaitu: kebijakan, kelembagaan, infrastruktur, aplikasi, dan perencanaan. Masing-masing dimensi itu nantinya akan memiliki bobot yang sama dalam penilaian karena semuanya penting, saling terkait dan saling menunjang antara satu dengan yang lainnya.

1. Kebijakan

Dimensi kebijakan sangat erat kaitannya dengan produk hukum dan dokumen-dokumen resmi yang mempunyai tujuan untuk memberi arah dan mendorong pemanfaatan TIK yang terdiri dari antara lain: visi dan misi, strategi pemanfaatan TIK, standar (laporan), pedoman, peraturan, dan kebijakan anggaran.

2. Kelembagaan

Dimensi kelembagaan berkaitan erat dengan keberadaan organisasi yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pengembangan dan pemanfaatan TIK dengan indikator antara lain: keberadaan organisasi struktural yang lengkap (menjalankan fungsi CIO, dukungan teknis, dan lain-lain), tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang jelas, kelengkapan unit dan aparatur (jumlah, kompetensi, jenjang karir dan status), dan legalitas (dasar hukum).

3. Infrastruktur

Dimensi infrastruktur berkaitan dengan sarana dan prasarana yang mendukung pemanfaatan TIK yang terdiri dari antara lain: perangkat keras komputer dan piranti lunak, jaringan komunikasi (LAN, WAN, Internet), service delivery channel (web, telepon, sms dan lain lain), dan fasilitas pendukung (AC, UPS, Genset, Access Control).

4. Aplikasi

Dimensi aplikasi berkaitan dengan ketersediaan dan dimanfaatkannya piranti lunak aplikasi yang memenuhi kriteria antara lain: dapat bekerja sesuai dengan kondisi yang ada (ketersediaan infrastruktur, sumber daya manusia, dan lain-lain), dapat bekerja memenuhi kebutuhan yang ada, berfungsi mendukung proses kerja yang efisien yang memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal, membawa dampak positif bagi efisiensi dan kualitas layanan, serta mampu mengikuti perubahan dari waktu ke waktu dengan mudah.

5. Perencanaan

Dimensi perencanaan berkaitan dengan proses perencanaan, indikatornya antara lain: adanya perencanaan untuk pengembangan dan pemanfaatan TIK yang dilakukan secara nyata, adanya kajian kebutuhan dan strategi penerapan TIK yang lengkap, terdiri dari antara lain: Â tujuan, manfaat, gambaran kondisi saat ini, pemilihan teknologi, kebutuhan sumber daya, pendekatan, penentuan prioritas, biaya dan antisipasi kebutuhan di masa depan, pengambilan keputusan dan realisasi pengembangan mengacu pada rencana pengembangan.

Berikut Hasilnya

Berdasarkan Provinsi (2008)

Peringkat Provinsi Dimensi Rata-Rata Kategori
Kebijakan Kelembagaan Infrastruktur Aplikasi Perencanaan
1 Jatim 3.33 3.20 3.05 3.22 3.25 3.21 Baik
2 DIY 3.29 3.07 2.76 3.26 2.92 3.06 Baik
3 Jabar 2.58 3.13 3.24 3.22 2.83 3.00 Baik
4 DKI 2.75 2.87 3.10 2.59 3.08 2.88 Baik
5 Kaltim 2.79 2.93 2.76 2.37 3.17 2.80 Baik
6 Jateng 2.54 2.27 2.76 2.59 2.58 2.55 Baik
7 NTT 2.79 2.60 2.48 2.59 2.25 2.54 Baik
8 Riau 2.29 2.40 2.10 2.48 2.25 2.30 Kurang
9 Banten 2.13 2.20 1.86 2.11 2.75 2.21 Kurang
10 Papua 2.08 2.07 2.43 1.70 2.50 2.16 Kurang
11 Sumsel 1.83 1.90 2.57 1.90 2.50 2.14 Kurang
12 Bali 1.96 2.27 1.86 2.67 1.33 2.02 Kurang
13 Lampung 1.96 2.47 1.71 2.37 1.50 2.00 Kurang
14 Gorontalo 2.00 2.20 2.00 2.22 1.50 1.98 Kurang
15 Sumbar 2.13 2.20 1.67 2.70 1.00 1.94 Kurang
16 Jambi 2.38 2.33 1.81 2.04 1.00 1.91 Kurang
17 Sumut 1.71 1.93 2.14 2.19 1.08 1.81 Kurang
18 NTB 1.92 1.87 1.86 1.70 1.00 1.67 Kurang
19 Sulsel 1.38 1.87 1.90 1.41 1.33 1.58 Kurang
20 Sultra 1.75 2.00 1.33 1.15 1.67 1.58 Kurang
21 NAD 1.58 1.20 1.67 1.56 1.83 1.57 Kurang
22 Papua Barat 1.71 1.87 1.52 1.67 1.00 1.55 Kurang
23 Bengkulu 1.13 1.80 1.52 1.89 1.00 1.47 Sangat Kurang
24 Kepri 1.42 1.27 1.38 1.59 1.25 1.38 Sangat Kurang
25 Kalsel 1.08 1.80 1.43 1.52 1.00 1.37 Sangat Kurang
26 Sulbar 1.29 1.67 1.24 1.30 1.00 1.30 Sangat Kurang
27 Babel 1.08 1.00 1.57 1.56 1.08 1.26 Sangat Kurang
Rata-Rata 2.03 2.16 2.06 2.13 1.84 2.05

Sumber: DitJen Aptel

Berdasarkan Departemen/Kementerian (2009)

Peringkat Departemen Dimensi Rata-Rata Kategori
Kebijakan Kelembagaan Infrastruktur Aplikasi Perencanaan
1 DEPDIKNAS 3.41 3.25 3.39 3.25 3.56 3.37 Baik
2 DEPKEU 3.25 3.47 3.57 3.38 2.92 3.32 Baik
3 DEPPU 3.29 3.13 3.05 3.46 3.58 3.30 Baik
4 DEPHAN 2.83 2.84 3.14 2.86 3.50 3.03 Baik
5 DEPPERIN 3.25 3.07 2.67 3.33 2.33 2.93 Baik
6 BAPPENAS 2.71 2.67 2.81 3.08 3.08 2.87 Baik
7 DEPNAKERTRANS 2.84 2.70 2.57 2.59 3.06 2.75 Baik
8 DEPSOS 2.83 2.80 3.05 3.00 1.92 2.72 Baik
9 DEPESDM 2.46 3.07 2.57 2.92 2.50 2.70 Baik
10 KEMENEGRISTEK 2.54 2.60 2.86 3.42 2.08 2.70 Baik
11 DEPHUB 2.63 2.80 2.43 2.63 2.92 2.68 Baik
12 DEPKOMINFO 2.63 2.67 2.62 3.00 2.42 2.67 Baik
13 DEPKUMHAM 3.02 2.65 2.29 2.56 2.75 2.65 Baik
14 KEMENEGKOPUKM 2.25 2.60 2.62 3.00 2.08 2.51 Baik
15 DEPTAN 2.42 2.60 2.67 2.56 2.17 2.48 Kurang
16 DEPDAG 1.93 2.08 2.69 2.80 2.40 2.38 Kurang
17 DEPKES 2.44 2.40 2.68 2.72 1.63 2.37 Kurang
18 DEPAG 2.29 2.47 2.33 3.08 1.58 2.35 Kurang
19 KEMENEGBUMN 1.58 2.00 2.24 3.38 1.92 2.22 Kurang
20 KEMENEGPAN 1.63 1.90 2.57 2.57 1.88 2.11 Kurang
21 KEMENEGKLH 1.83 2.13 2.51 1.89 1.83 2.04 Kurang
22 DEPBUDPAR 1.88 1.93 2.43 1.92 1.75 1.98 Kurang
23 DEPDAGRI 1.97 1.85 2.32 2.00 1.56 1.94 Kurang
24 DEPHUT 1.54 2.00 2.14 2.21 1.50 1.88 Kurang
25 KEMENEGPDT 1.50 1.53 1.81 2.15 2.00 1.80 Kurang
26 KEMENPERA 1.38 1.87 2.00 2.38 1.33 1.79 Kurang
27 KEMENPORA 1.54 2.07 1.57 1.88 1.58 1.73 Kurang
Rata-Rata 2.37 2.49 2.58 2.74 2.29 2.49

Sumber: DitJen Aptel

What is after “T”?

Oktober 26, 2010

In Mafia Wars game, there is an achivement named “What is after ‘T’?”, which is a job that collecting money about 1 Trillion dollar in a bank. In my mind’s question, what we named something after trillion? After a long search, I found this article and shared to all of you. Maybe this is usefull. This is starting from 1 to 10 to the power of 10^100. Enjoy…

  1. 10^0 one
  2. 10^1 ten
  3. 10^2 hundred
  4. 10^3 thousand
  5. 10^4 ten thousand
  6. 10^5 hundred thousand
  7. 10^6 million
  8. 10^9 billion
  9. 10^12 trillion
  10. 10^15 quadrillion
  11. 10^18 quintillion
  12. 10^21 sextillion
  13. 10^24 septillion
  14. 10^27 octillion
  15. 10^30 nonillion
  16. 10^33 decillion
  17. 10^36 undecillion
  18. 10^39 duodecillion
  19. 10^42 tredecillion
  20. 10^45 quattuordecillion
  21. 10^48 quindecillion
  22. 10^51 sexdecillion
  23. 10^54 septdecillion, septendecillion
  24. 10^57 octodecillion
  25. 10^60 novemdecillion
  26. 10^63 vigintillion
  27. 10^66 unvigintillion
  28. 10^69 duovigintillion
  29. 10^72 trevigintillion
  30. 10^75 quattuorvigintillion
  31. 10^78 quinvigintillion
  32. 10^81 sexvigintillion
  33. 10^84 septvigintillion,septenvigintillion
  34. 10^87 octovigintillion
  35. 10^90 novemvigintillion
  36. 10^93 trigintillion
  37. 10^96 untrigintillion
  38. 10^99 duotrigintillion
  39. 10^100 googol / (10 duotrigintillion)
  40. 10^102 tretrigintillion
  41. 10^105 quattuortrigintillion
  42. 10^108 quintrigintillion
  43. 10^111 sextrigintillion
  44. 10^114 septtrigintillion,septentrigintillion
  45. 10^117 octotrigintillion
  46. 10^120 novemtrigintillion
  47. 10^123 quadragintillion
  48. 10^126 unquadragintillion
  49. 10^129 duoquadragintillion
  50. 10^132 trequadragintillion
  51. 10^135 quattuorquadragintillion
  52. 10^138 quinquadragintillion
  53. 10^141 sexquadragintillion
  54. 10^144 septquadragintillion,septenquadragintillion
  55. 10^147 octoquadragintillion
  56. 10^150 novemquadragintillion
  57. 10^153 quinquagintillion
  58. 10^156 unquinquagintillion
  59. 10^159 duoquinquagintillion
  60. 10^162 trequinquagintillion
  61. 10^165 quattuorquinquagintillion
  62. 10^168 quinquinquagintillion
  63. 10^171 sexquinquagintillion
  64. 10^174 septquinquagintillion,septenquinquagintillion
  65. 10^177 octoquinquagintillion
  66. 10^180 novemquinquagintillion
  67. 10^183 sexagintillion
  68. 10^186 unsexagintillion
  69. 10^189 duosexagintillion
  70. 10^192 tresexagintillion
  71. 10^195 quattuorsexagintillion
  72. 10^198 quinsexagintillion
  73. 10^201 sexsexagintillion
  74. 10^204 septsexagintillion,septensexagintillion
  75. 10^207 octosexagintillion
  76. 10^210 novemsexagintillion
  77. 10^213 septuagintillion
  78. 10^216 unseptuagintillion
  79. 10^219 duoseptuagintillion
  80. 10^222 treseptuagintillion
  81. 10^225 quattuorseptuagintillion
  82. 10^228 quinseptuagintillion
  83. 10^231 sexseptuagintillion
  84. 10^234 septseptuagintillion,septenseptuagintillion
  85. 10^237 octoseptuagintillion
  86. 10^240 novemseptuagintillion
  87. 10^243 octogintillion
  88. 10^246 unoctogintillion
  89. 10^249 duooctogintillion
  90. 10^252 treoctogintillion
  91. 10^255 quattuoroctogintillion
  92. 10^258 quinoctogintillion
  93. 10^261 sexoctogintillion
  94. 10^264 septoctogintillion,septenoctogintillion
  95. 10^267 octooctogintillion
  96. 10^270 novemoctogintillion
  97. 10^273 nonagintillion
  98. 10^276 unnonagintillion
  99. 10^279 duononagintillion
  100. 10^282 trenonagintillion
  101. 10^285 quattuornonagintillion
  102. 10^288 quinnonagintillion
  103. 10^291 sexnonagintillion
  104. 10^294 septnonagintillion,septennonagintillion
  105. 10^297 octononagintillion
  106. 10^300 novemnonagintillion
  107. 10^303 centillion
  108. 10^603 ducentillion
  109. 10^903 trecentillion
  110. 10googol / Googolplex 10^10,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000,000

Disclaimer: dilarang mengutip seluruh atau sebagin tulisan KTI tanpa izin dari penulis



Pengukuran Penerimaan dan Pemanfaatan USO pada Desa Berdering di Indonesia dengan Menggunakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology

Oleh: Riza Azmi

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pos dan Telekomunikasi

Abstract

Kewajiban Pelayanan Universal or the Universal Service Obligation in Indonesia until the first femester of 2010 has reached the percentage of the development achievement of 78.39% for the Desa Berdering. This multiyear program is built within the framework of Indonesia’s commitment to meeting the WSIS Phase II in Tunis which is to reduce the digital dividen. Along with the numerous achieving projects, this study is trying to analyze how the use and the acceptance of USO facility associated with the theory of acceptance and use of UTAUT. This study uses the theory of UTATUT assuming the definition of Desa Berdering is a village that  receive new telecommunications technology. This research used the Component-Based SEM for the analysis with Partial Least Square methode.

Keywords: Unified Theory of Acceptance and Use of Technology, USO, Partial Least Square

Abstrak

Universal Service Obligation atau Kewajiban Pelayanan Universal di Indonesia sampai dengan Semester I 2010 telah mencapai prosentasi pencapaian pembangunan 78.39% untuk Desa Berdering. Program multiyear ini dibangun dalam rangka komitmen Indonesia terhadap pertemuan WSIS tahap II di Tunis yaitu mengurangi kesenjangan digital. Seiring dengan terselesaikannya sebagian besar proyek ini, penelitian ini mencoba menganalisis bagaimana penerimaan dan pemanfaaran fasilitas USO dikaitkan dengan teori penerimaan dan pemanfaatan UTAUT. Penelitian ini menggunakan teori UTATUT dengan asumsi Desa Berdering dalam definisinya sebagai desa yang baru menerima teknologi telekomunikasi. Analisis yang digunakan menggunakan Component Based SEM dengan metode analisis Partial Least Square.

Kata-Kata Kunci: Unified Theory of Acceptance and Use of Technology, USO, Partial Least Square

1. PENDAHULUAN

Universal Service Obligation adalah kewajiban yang dapat dikenakan pada operator telekomunikasi dominan (biasanya incumbent). Kewajiban ini mencakup permintaan untuk memenuhi permintaan untuk penyediaan layanan telekomunikasi tertentu kepada siapa saja di dalam negeri. Tujuan memiliki kewajiban tersebut adalah untuk memastikan cakupan nasional layanan telekomunikasi tertentu juga di daerah pedesaan yang terpencil, dimana penyediaan layanan telekomunikasi mungkin menjadi kurang menguntungkan (ICT Regulation Toolkit Section 1740).

Definisi USO sendiri dituangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yaitu Kewajiban Pelayanan Universal yang merupakan kewajiban yang dibebankan kepada penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi untuk memenuhi aksesibilitas bagi wilayah atau sebagian masyarakat yang belum terjangkau oleh penyelenggaraan jaringan dan atau jasa telekomunikasi; (Ketentuan umum pasal 1 nomor 13 yang menyatakan). Lebih lanjut, sebagaimana yang disebutkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No:32/PER/M.KOMINFO/10/2008 Tentang Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi bahwa Kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal (KKPU) Telekomunikasi adalah kontribusi yang merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang harus dibayar oleh penyelenggara telekomunikasi dan yang dikelola oleh BTIP (ketentuan umum pasal 1).

Kewajiban Pelayanan Universal tersebut didasari atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (HAM) atau Human Right pasal 19 yang dijadikan sebagai landasan pokok pembentukan masyarakat informasi dunia. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa : “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas”. Atas dasar tersebut, pemimpin negara-negara dunia mengadakan pertemuan tingkat tinggi yang diawali dengan Okinawa Summit di Jepang pada bulan Juli 2000 yang dihadiri negara-negara maju. Pimpinan negara-negara maju tersebut  menyepakati antara lain rencana untuk menjembatani kesenjangan digital (digital devide) yang dilanjutkan dengan Deklarasi Tokyo bulan November 2000. Kemudian dilanjutkan rekomendasi salah satu aktivitas dibawah badan PBB yaitu naskah Plan of Action World Summit on the Information Society (WSIS) yang ditetapkan 12 Desember 2003 di Geneva, mempunyai target yang harus dicapai selambat-lambatnya pada tahun 2015, antara lain menghubungkan semua desa dengan teknologi Informasi dan komunikasi Information and Communication Technology (ICT) dan memastikan bahwa lebih dari setengah penduduk dunia mempunyai akses dengan teknologi informasi dan komunikasi  atau  Information and Communication Technology (ICT).  Komitmen untuk mengurangi kesenjangan digital (digital divide) tersebut dilanjutkan dengan kesepakatan pada konferensi Tingkat Tinggi Dunia WSIS tahap dua yang diselenggarakan di Tunis pada tanggal 16-18 November 2005.

Komitmen Indonesia mengenai hal ini dilanjutkan dengan dilakukannya pembangunan fasilitas USO untuk desa-desa yang belum memiliki jaringan telekomunikasi. Pada awalnya, sumber dana diperoleh berdasarkan dana APBN. Dengan banyaknya wilayah yang perlu dicover untuk program ini, maka dana adalah hal utama. Dengan adanya peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2005 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 14 Tahun 2000 Tentang Tarif dan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Perhubungan dan juga Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2008 tentang Tarif dan Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Komunikasi dan Informatika, khusus untuk Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2005 antara lain disebutkan, bahwa jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berupa kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi/Universal Service Obligation, yang tarifnya sebesar 0,75% dari pendapatan kotor penyelenggara telekomunikasi per tahun maka, sumber dana USO yang berasal dari USO kemudian bergeser ke dana yang berasal dari PNBP.

Pada perkembangannya, program pelaksanan USO ini dibagi menjadi 2 yaitu Desa Berdering dan Desa PINTER. Pada program USO desa berdering ditujukan kepada desa yang sama sekalil tidak terakses telekomunikasi, sementara untuk kategori desa PINTER ditujukan pembangunannya untuk memperkenalkan akses Internet. Wilayah pembangunan infrastruktur desa berdering sendiri dibagi kedalam wilayah pelayanan universal teknologi atau disingkat WPUT dengan kriteria desa yang belum mendapatkan akses yang memadai terhadap pelayanan telekomunikasi.  WPUT ini dibagi kedalam 11 blok area, yaitu:

  1. WPUT I terdiri dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara dan Sumatra Barat
  2. WPUT II terdiri dari Jambi, Riau, Kepulauan Riau dan Bangka Blitung
  3. WPUT III terdiri dari Sumatra Selatan, Bengkulu dan Lampung
  4. WPUT IV terdiri dari Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah
  5. WPUT V terdiri dari Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan
  6. WPUT VI terdiri dari Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah
  7. WPUT VII terdiri dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara
  8. WPUT VIII terdiri dari Papua dan Papua Barat
  9. WPUT IX terdiri dari Maluku  dan Maluku Utara
  10. WPUT X terdiri dari NTB, NTT dan Bali
  11. WPUT XI terdiri dari Jawa

Gambar 1: Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi (sumber: BTIP)

Sedangkan, target pencapaian pembangunan USO untuk desa berdering ini ditetapkan 36.471 desa dengan sebaran sebagai berikut:

Tabel 1: Sasaran Desa USO

No Provinsi Desa Target Desa On Air Total Desa No Provinsi Desa Target Desa On Air Total Desa
1 NAD 3847 3845 6378 15 NTT 388 387 820
2 Sumatera Utara 2976 2981 5616 16 NTB 2027 2027 2742
3 Sumatera Barat 1804 1749 1902 17 Kalimantan Barat 986 986 1531
4 Riau 716 681 1482 18 Kalimantan Tengah 1128 1120 1395
5 Kepulauan Riau 88 57 245 19 Kalimantan Timur 636 636 1352
6 Jambi 805 805 1231 20 Kalimantan Selatan 1187 1187 1957
7 Bangka Belitung 159 158 321 21 Sulawesi Selatan 905 324 2866
8 Bengkulu 997 983 1233 22 Sulawesi Barat 236 67 491
9 Sumatera Selatan 1704 1599 2783 23 Sulawesi Tengah 744 67 1530
10 Lampung 767 767 2193 24 Sulawesi Tenggara 928 12 1705
11 Banten 685 680 1483 25 Sulawesi Utara 474 8 1280
12 Jawa Barat 1187 1185 5808 26 Gorontalo 184 7 476
13 Jawa Tengah 1552 1551 8566 27 Maluku 710 65 886
14 DIY 19 19 438 28 Maluku Utara 576 10 793
15 Jawa Timur 1579 1579 8484 29 Irian Jaya Barat 768 56 1166
16 Bali 178 178 701 30 Papua 2247 239 2442
Total Target 33187 Total Pencapaian 26015 Total Desa 72296
Prosentasi Pencapaian: 78.39%

Sumber: Buku Statistik DitJen Postel Semester I tahun 2010 (diolah)

Pada kondisi sekarang, terhitung hingga September 2010 telah tersedia akses telfon berdering untuk sebanyak 26.039 desa di seluruh Indonesia dari target sebanyak 31.800 desa yang semula sama sekali tidak terakses telekomunikasi (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2010). Proyeksi pembangunan fasilitas USO ini direncanakan dapat mencapai 26.039 desa pada bulan Oktober 2010, dan bulan Desember 2010 sebanyak 31.800 desa. Sementara itu, pada proyek Desa berdering juga mengalami revisi target, yaitu diharapkan menjadi 33.187 desa di bulan Juni 2011 (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2010).

Sejalan dengan tercapainya sebagian besar target pembangunan USO tersebut, maka untuk mengetahui bagaimana penggunaan/pemanfaatan fasilitas USO terutama pada Desa Berdering yang telah dibangun, maka penelitian ini mencoba melihat kondisi penerimaan dan penggunaan masyarakat kepada masyarakat disekitar lokasi pembangunan fasilitas USO dengan perumusan masalah sebagai berikut:

“Bagaimana Penerimaan dan Penggunaan USO oleh masyarakat terkait dengan teori Penerimaan dan Penggunaan Universal Theory of Use and Acceptance of Technology”

2. LANDASAN TEORI

a. Konsep Universal Theory of Acceptance and Use of Technology

Fasilitas USO pada Desa Berdering merupakan fasilitas yang dipasang pada Desa yang baru menggunakan Telekomunikasi. Sehingga pada penelitian ini diasumsikan bahwa fasilitas USO adalah suatu teknologi baru bagi masyarakat di wilayah perdesaan yang dapat dimanfaatkan untuk berkomunikasi.  Penerimaan teknologi baru oleh masyarakat akan dapat diketahui dengan menggunakan teori penerimaan teknologi informasi Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT).

Teori UTAUT dikembangkan oleh Venkatesh et al yang menyatakan bahwa penerimaan seseorang terhadap teknologi informasi (User Intention) dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu Performance expectancy (tingkat keyakinan seseorang percaya bahwa menggunakan sistem akan membantu dia menghasilkan kerja yang maksimal), Effort Expectancy (tingkat kemudahan pengguna dalam menggunakan sistem), Social Influence (kesadaran seseorang adanya orang lain atau lingkungan yang menggunakan sistem), Facilitating Conditions (keyakinan adanya orang lain yang mendukung aktivitas pengguna).

Teori penerimaan teknologi informasi (Unified Theory of Acceptanceand Use of Technology) berdasarkan pada teori-teori perilaku penggunaan teknologi dan penerimaan teknologi. Keempat faktor tersebut tidak saling berpengaruh, namun setiap faktor mempunyai hubungan kausal dengan use behavior. Model teori UTAUT digunakan sebagai alat analisis penggunaan fasilitas USO yang digambarkan dalam model dibawah ini:

Gambar 2 Model Unified Theory of Acceptanceand Use of Technology (UTAUT)

Sumber :Konstruk UTAUT (Venkatesh et. Al., 2003, hal.447)

Pada model ini Gender, Age, Experience, serta Voluntary of Use sebagai elemen penengah dalam mengemukakan dampak dari empat kunci pada penggunaan konstruk User Intention serta perilaku turunan tersebut (Venkatesh et. Al., 2003).

Pada Gambar tersebut model UTAUT dibentuk oleh 10 elemen yaitu yaitu Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influences, Facilitating Conditions, Gender, Age, Experience, Voluntariness of Use, Behavioral Intention dan Use Behavior.   Sementara itu terdapat elemen eksogen (mempengaruhi) dan endogen (dipengaruhi) yaitu Use Behavior dipengaruhi oleh Behavioral Intention dan Facilitating Conditions, dimana Behavioral Intention dipengaruhi oleh Performance Expectancy, Efforrt Expectancy dan Social Influence. Sementara Gender, Age, Experience dan Voluntariness of Use sebagai elemen tambahan dalam 4 elemen eksogen utama yaitu Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influences dan Facilitationg Condition.

Terkait dengan penelitian ini maka, secara rinci elemen diatas dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Performance Expectancy atau Harapan Kinerja didefinisikan sebagai tingkat dimana seseorang percaya bahwa menggunakan telepon atau internet, sistem akan membantu dia untuk mencapai keuntungan dalam kinerja.  Performance Expectancy dinilai dengan 3 indikator yaitu PE1, PE2, dan PE3.
  2. Effort Expectancy / Ease of Use didefinisikan sebagai derajat kemudahan yang dikaitkan dalam penggunaan sistem. Effort Expectancy dinilai dengan 2 indikator yaitu EE4 dan EE5.
  3. Social Influences didefinisikan sebagai sejauh mana seorang individu memandang pentingnya faktor lingkungan kerjanya (dalam hal ini lingkup sosial) dalam penggunaan sistem baru. Social Influences dinilai dengan 3 indikator yaitu SI6, SI7, dan SI8.
  4. Facilitating Condition didefinisikan sebagai tingkat dimana seseorang percaya bahwa sebuah organisasi dan infrastruktur teknis yang ada untuk mendukung penggunaan sistem. Facilitating Condition dinilai dengan 4 indikator yaitu FC9, FC10, FC11 dan FC12.
  5. Behavioral Intention yaitu perilaku utama organisasi dalam penerimaan teknologi. Konsisten dengan teori yang mendasari semua pengaruh terhadap Behavioral Intention diatas, diharapkan bahwa Behavioral Intention akan memiliki pengaruh  yang signifikan pada penggunaan teknologi. Behavioral Intention dinilai dengan 1 indikator yaitu BI13.
  6. Use Behavioral yaitu perilaku yang ingin dicapai dalam penggunaan teknologi. Use Behavioral dinilai dengan 3 indikator yaitu UB14, UB15, dan UB 16.

b. Hipotesis Teori

Adapun, setiap model hubungan menjadi suatu hipeotesis dalam penelitian ini yaitu:

  1. Ha: Harapan performancy kerja (Performance Expectation) berpengaruh  terhadap  Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention)
  2. Hb: Harapan usaha (Effort Expectancy) berpengaruh  terhadap  Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention)
  3. Hc: Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  4. Hd: Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  5. He: Kondisi yang memfasilitasi (Facilitating condition) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  6. H1a: Hubungan antara Harapan performancy kerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender
  7. H2a: Hubungan antara Harapan performancy kerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating age
  8. H1b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender
  9. H2b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating usia (age)

10.  H3b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating pengalaman menggunakan fasilitas atau sistem (experience)

11.  H1c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender

12.  H2c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating age

13.  H3c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating experience

14.  H4c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating voluntariness of use

15.  H1d: Hubungan antara Kondisi yang memfasilitasi (Fasilitating Condition) terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour) dipengaruhi oleh moderating age

16.  H2d: Hubungan antara Kondisi yang memfasilitasi (Fasilitating Condition) terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour) dipengaruhi oleh moderating experience

Dengan  model UTAUT tersebut , hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran faktor-faktor yang signifikan berpengaruh terhadap penerimaan telepon oleh masyarakat di pedesaan .

3. METODE PENELITIAN

a. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan survei kepada masyarakat Desa Berdering. Penelitian ini bersifat kuantitatif karena akan melakukan peramalan berdasarkan model matematis atau statistik terkait teori UTAUT.

b. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini meliputi sembilan wilayah propinsi yaitu Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan Barat. Pemilihan lokasi tersebut dipilih secara purposive dengan mempertimbangkan pembangunan fasilitas USO yang homogen di setiap wilayah yaitu sudah dibangun desa berdering. Pemilihan lokasi desa berdering untuk survei pada setiap wilayah propinsi dilakukan secara purposive  yaitu desa yang telah dibangun dan dioperasikannya fasilitas USO.

Berikut adalah data desa yang disurvey pada masing-masing propinsi:

PROPINSI KABUPATEN KECAMATAN DESA
Jawa Barat Purwakarta Cibatu Wanawali
Pasawahan Margasari, Warung Kadu, Pasawahan Anyar
Jawa Timur Bangkalan Klampis Trogan, Polongan, Larangan Sorjan, Tolbuk
Sumatera Utara Simalungun Bandar Silam Bandar Rejo, Gunung Serawan, Bandar Silou, Bandar Marsilam II
Sumatera Barat Anak air Padang, Kuranji, Kayu Kalek, Kacah Biteh
Jambi Merangin Sungai Manau Sungai Jering
Muara Siau Sekancing
Bangko Bedeng Rejo, Aur Berduri
Bengkulu Rejang Lebang Besmani Ulu Pal 100, Taba Terujam, Taba Pasma, Malabro
Kalimantan Barat Landak Mandor Mengkunyit, Keramas, Bebatung, Simpang Kasturi
Nusa Tenggara Timur Kupang Nekamese Tasikona, Oelomen, Oepaha, Bone

c. Populasi dan Sampel

Populasi untuk penelitian adalah masyarakat disekitar pembangunan fasilitas USO telekomunikasi pada Desa Berdering. Jumlah sampel 100 responden untuk tiap wilayah survei. Masyarakat disekitar pembangunan homogen, tidak menggunakan strata  sehingga teknik sampling untuk menentukan sampel dengan simple random sampling (sampel acak sederhana), yaitu diambil secara acak. Perlakuan untuk missing value pada kuesioner dengan menggunakan rata-rata  (Bastien, et al.).  Pengolahan data hanya dilakuakn terhadap responden yang mengisi kuesioner pernah menggunakan fasilitas USO agar mempertajam hasil.

d. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan teknik kuesioner untuk mendapatkan jawaban dari para pengguna USO sebagai cerminan persepsi mereka terhadap penerimaan dan penggunaan USO.

e. Teknik analisis data

Teknik analisis data dengan menggunakan analisis SEM dengan PLS (menggunakan tools SmartPLS 2.0). Penggunaan PLS digunakan karena PLS mengabaikan beberapa asumsi parametrik yaitu data berdistribusi normal  (Ghozali, 2008). Adapun langkah-langkah analisis data yaitu:

4. HASIL PENELITIAN

a. Uji Normalitas

Langkah pertama adalah melakukan pengujian terhadap data, apakah berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal, maka data diolah dengan Covariant Based SEM, namun jika tidak memenuhi asumsi parametrik, maka menggunakan Component Based SEM dengan PLS. Dari hasil penyebaran kuesioner terisi kuesioner untuk pengguna Desa Berdering sebesar n=392 responden. Data kemudian diolah untuk melihat apakah data telah memenuhi asumsi parametrik. Pada tabel dibawah, dapat dilihat bahwa data sebagian besar data tidak terdistribusi normal, atau dengan kata lain tidak memenuhi asumsi parametrik, sehingga pengolahan data harus dengan Component Based SEM.

Variabel N Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) Keterangan
PE1 392 6.299719 0 Tidak Normal
PE2 392 4.190772 0 Tidak Normal
PE3 392 4.369642 0 Tidak Normal
EE4 392 7.707474 0 Tidak Normal
EE5 392 7.02715 0 Tidak Normal
SI6 392 3.882975 0 Tidak Normal
SI7 392 4.416759 0 Tidak Normal
SI8 392 4.137612 0 Tidak Normal
FC9 392 3.580765 0 Tidak Normal
FC10 392 4.021307 0 Tidak Normal
FC11 392 5.416006 0 Tidak Normal
FC12 392 4.884412 0 Tidak Normal
UB13 392 5.08767 0 Tidak Normal
UB14 392 4.897262 0 Tidak Normal
UB15 392 6.474498 0 Tidak Normal
UB16 392 5.270095 0 Tidak Normal
VOLUNTARY 392 10.04179 0 Tidak Normal
GENDER 392 7.611871 0 Tidak Normal
AGE 392 7.585865 0 Tidak Normal
EXPERIENCE 392 9.735103 0 Tidak Normal

b. Pengujian Outer Model (Measurement Model)

Pengujian Outer Model untuk menguji validitas dan reliabilitas suatu model dengan melihat Internal Consistency dan Discriminant Validity dari suatu model. Adapun internal consistency dinilai dengan melihat loading factor, dan Discriminant Validiti dilihat dengan AVE dan Composite Reliability.

  1. Menilai Loading Factor

Nilai Loading Factor untuk melihat apakah indikator valid dalam menilai variabel. Loading Factor yang disarankan dengan cut-off 0.7 (Vinzi, et al., 2009), dimana indikator PE1 tidak valid dalam menilai konstruk karena dibawah 0.7 (walaupun dalam batas marginal: 0.656), sehingga dihilangkan kemudian model di running ulang. Sehingga, menghasilkan path diagram seperti pada gambar.

  1. Validitas dan Reliabilitas

Penilaian validitas dengan melihat AVE (Average Variance Extracted), yaitu untuk melihat seberapa besar konstruk dalam menilai indikator-indikatornya. Selain itu, discriminant validity  dilihat dengan nilai akar AVE yaitu dengan membandigkannya dengan nilai crossloading nilai lainnya. Batas cut-off untuk AVE adalah 0.5 (Vinzi, et al., 2009). Pada tabel dapat dilihat AVE mampu menjelaskan konstruk terkecuali variabel moderating Experience pada facilitating Condition dan Use Behavioral, sehingga dikeluarkan dari model kemudian di running ulang. Sedangkan akar AVE lebih besar daripada crossloading nilai lainnya yang menjelaskan variabel dapat menjelaskan variabel.

Variabel Laten AVE Akar AVE Keterangan
Age 1 1 Valid
Behavioral Intention 1 1 Valid
Effort Expectancy 0.853365 0.923777571 Valid
Effort Expectancy * Age 0.852564 0.923343923 Valid
Effort Expectancy * Experience 0.888431 0.942566178 Valid
Effort Expectancy * Gender 0.869403 0.932417825 Valid
Experience 1 1 Valid
Facilitating Condition 0.591499 0.769089722 Valid
Facilitating Condition * Age 0.614328 0.783790788 Valid
Facilitating Condition * Experience 0.350456 0.591993243 Tidak valid
Gender 1 1 Valid
Performance Expectancy 0.907048 0.952390676 Valid
Performance Expectancy * Age 0.914954 0.956532279 Valid
Performance Expectancy * Gender 0.898277 0.947774762 Valid
Social Influence 0.702831 0.838350166 Valid
Social Influence * Age 0.528666 0.727094217 Valid
Social Influence * Experience 0.740127 0.860306341 Valid
Social Influence * Gender 0.691883 0.831795047 Valid
Social Influence * Voluntary of Use 0.792163 0.890035393 Valid
Use Behavioral 0.705251 0.839792236 Valid
Voluntary of Use 1 1 Valid

c. Pengujian Inner Model

  1. Evaluasi Goodness of Fit

Evaluasi Goodness of Fit dengan melihat nilai R2. Pada penelitian ini, nilai Goodness of Fit dari variabel endogen behavioral intention yaitu 0.66 dan use behavioral yaitu 0.53, yang berarti model ini memiliki model fit yang moderat (Ghozali, 2008), sehingga model layak untuk diinterpretasi. Nilai R2 Behavioral Intention sebesar 0.66 ini berarti bahwa variabel Performance Expectancy, Effort Expectancy dan Social Influence mampu menjelaskan Behavioral Intention sebesar 66%, sementara 34% nya dijelaskan oleh faktor-faktor yang berada diluar pertanyaan penelitian. Demikian pula dengan nilai R2 Use Behavioral sebesar 0.53 ini berarti bahwa variabel Facilitating Condition dan Behavioral Intention mampu menjelaskan Behavioral Intention sebesar 53%, sementara 37% nya dijelaskan oleh faktor-faktor yang berada diluar pertanyaan penelitian.

R Square
Behavioral Intention 0.669526
Use Behavioral 0.525248
  1. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dengan melakukan resample data dengan metode bootstrapping. Dari hasil bootstrapping, didadapat beberapa hipotesis yang diterima. Batas cut-off uji hipotesis yaitu dengan tingkat kepercayaan 10% (t-statistik >= 1.64).

Hipotesis Original Sample (O) T Statistics (|O/STERR|) Keterangan
Behavioral Intention -> Use Behavioral 0.564916 24.716998 Diterima *
Effort Expectancy -> Behavioral Intention -0.0539 2.481741 Diterima **
Effort Expectancy * Age -> Behavioral Intention -0.033512 1.514371 Ditolak
Effort Expectancy * Experience -> Behavioral Intention -0.03569 1.68369 Diterima ***
Effort Expectancy * Gender -> Behavioral Intention 0.030224 1.358068 Ditolak
Facilitating Condition -> Use Behavioral 0.201881 7.69111 Diterima *
Facilitating Condition * Age -> Use Behavioral 0.098134 4.033533 Diterima *
Performance Expectancy -> Behavioral Intention 0.744367 39.675011 Diterima *
Performance Expectancy * Age -> Behavioral Intention 0.071227 3.427506 Diterima *
Performance Expectancy * Gender -> Behavioral Intention -0.06529 2.281327 Diterima **
Social Influence -> Behavioral Intention -0.257275 2.303856 Diterima **
Social Influence * Age -> Behavioral Intention -0.007202 0.336761 Ditolak
Social Influence * Experience -> Behavioral Intention 0.394453 3.227688 Diterima *
Social Influence * Gender -> Behavioral Intention 0.102062 3.832564 Diterima *
Social Influence * Voluntary of Use -> Behavioral Intention 0.014831 0.641759 Ditolak

*:sig 1%; **:sig:5%; ***:sig 10%

Adapun hipotesis yang diterima yaitu:

  1. Ha: Harapan performancy kerja (Performance Expectation) berpengaruh  terhadap  Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention)
  2. Hb: Harapan usaha (Effort Expectancy) berpengaruh  terhadap  Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention)
  3. Hc: Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  4. Hd: Niat membiasakan diri untuk menggunakan (Behavioral Intention) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  5. He: Kondisi yang memfasilitasi (Facilitating condition) berpengaruh  terhadap kebiasaan menggunakan (Use Behaviour)
  6. H1a: Hubungan antara Harapan performancy kerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender
  7. H2a: Hubungan antara Harapan performancy kerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating age
  8. H1b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender
  9. H2b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating usia (age)

10.  H3b: Hubungan antara Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating pengalaman menggunakan fasilitas atau sistem (experience)

11.  H1c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating gender

12.  H2c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating age

13.  H3c: Hubungan antara Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan (behavioral Intention) dipengaruhi oleh moderating experience

5. KESIMPULAN PENELITIAN

Pada penelitian penerimaan dan penggunaan fasilitas USO pada Desa Berdering dengan menggunakan teori UTAUT ini, dikenali bahwa:

  1. Teori ini mampu menjelaskan hubungan antara penerimaan dan penggunaan USO dengan tingkat kesesuaian Behavioral Intention sebesar 66.95% dan Use Behavioral sebesar 52.53% dimana penerimaan uso dipengaruhi oleh faktor-faktor Behavioral Intention, Effort Expectancy dam Social Influence; sementara pada penggunaan dipengaruhi oleh faktor Behavioral Intention dan Facilitating Condition.
  2. Terdapat faktor-faktor yang mempegaruhi variabel hubungan penerimaan dan penggunaan fasilitas USO yaitu Gender, Age, Experience, dimana:
    1. Faktor jenis kelamin, terutama pada jenis kelamin laki-laki mempengaruhi hubungan antara
  1. i.      Harapan Kinerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  2. ii.      Kemudahan (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  3. iii.      Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  4. i.      Harapan performancy kerja (Performance Expectation) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  5. ii.      Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  6. iii.      Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  7. i.      Harapan usaha (Effort Expectancy) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
  8. ii.      Pengaruh lingkungan sosial/masyarakat (Social Influence) terhadap Niat membiasakan diri menggunakan USO (behavioral Intention)
    1. Faktor usia, terutama pada usia yang lebih muda mempengaruhi hubungan antara
    1. Faktor pengalaman, terutama pada pengguna yang telah memiliki pengalaman menggunakan sebelumnya mempengaruhi hubungan antara

DAFTAR PUSTAKA

Bastien, Philippe dan Tenenhaus, Michel. PLS Regression and Multiple Imputation. [Document] s.l. : L’Oréal Research, HEC School of Management,.

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2005. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Siaran Pers No. 33 /DJPT.1/KOMINFO/VII/2005 Urgensi Pembangunan Telefon Perdesaan. [Online] Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, 25 Juli 2005. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.postel.go.id/webupdate/humas/uso-humas.htm.

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2006. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. Siaran Pers No. 136/DJPT.1/KOMINFO/12/2006 Status Kelanjutan Rencana Pembangunan Pelayanan Telekomunikasi Pedesaan (USO) Setelah Terbitnya Peraturan Menkominfo No. 35/PER/M.KOMINFO/11/2006 Tertanggal 30 November 2006. [Online] Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, 1 Desember 2006. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=520.

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. 2006. Siaran Pers No. 05/DJPT.1/KOMINFO/I/2006 Persiapan Pembangunan Infrastruktur Telekomunikasi Pedesaan Melalui Program USO Tahun 2006. Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi. [Online] Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi, 12 Januari 2006. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.postel.go.id/update/id/baca_info.asp?id_info=249.

Imam, Ghozali. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : BAdan Penerbit Universitas Diponegoro, 2009. 979.704.300.2.

Imam, Ghozali. 2008. Structural Equation Modeling Methode Alternatif dengan Partial Least Square. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008. 979.704.250.9.

International Telecommunication Union. 2010. ICT Regulation Toolkit. Universal Service Obligation. [Online] InfoDev and the International Telecommunication Union, 16 September 2010. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.ictregulationtoolkit.org/en/Section.1740.html.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2010. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Siaran Pers No. 102/PIH/KOMINFO/9/2010 tentang Uji Publik Terhadap 2 RPM Dalam Rangka Penyempurnaan Regulasi Eksisting Yang Terkait Penyediaan Jasa Akses Internet Kecamatan. [Online] Kementerian Komunikasi dan Informatika, 20 September 2010. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.depkominfo.go.id/berita/siaran-pers-no-102pihkominfo92010-tentang-uji-publik-terhadap-2-rpm-dalam-rangka-penyempurnaan-regulasi-eksisting-yang-terkait-penyediaan-jasa-akses-internet-kecamatan/.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2010. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Siaran Pers No. 111/PIH/KOMINFO/10/2010 tentang Daftar Panjang Satu Tahun Tingkat Pencapaian Program Unggulan Kementerian Kominfo. [Online] Kementerian Komunikasi dan Informatika, 19 Oktober 2010. [Dikutip: 21 Oktober 2010.] http://www.depkominfo.go.id/berita/siaran-pers-no-111pihkominfo102010-tentang-daftar-panjang-satu-tahun-tingkat-pencapaian-program-unggulan-kementerian-kominfo/.

Kementerian Komunikasi dan Informatika. 2008. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No:32/PER/M.KOMINFO/10/2008 Tentang Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi . Jakarta : Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2008.

Kepala BTIP. 24 April 2010. Kesiapan Infrastruktur Indonesia Bagian Timur untuk Menghadapi Masalah Kesenjangan Digital dan Peningkatan E-Literacy. [Power Point] Manado : BTIP, 24 April 2010.

2000. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi yaitu Kewajiban Pelayanan Universal . s.l. : Republik Indonesia, 2000.

Vinzi, V. Esposito, et al. 2009. Handbook of Partial Least Square – Concept, Methode and Applications. Newyork : Springer, 2009. 978-3-540-32825-4.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.